Selasa, 09 April 2013

PEMANFAATAN JERAMI JAGUNG SEBAGAI PAKAN TERNAK

Tanaman jagung memiliki nilai ekonomis yang tinggi, buka saja dari hasil buahnya. Hasil ikutannya pun memiliki nilai ekonomis antara lain sebagai bahan bakar, keperluan industri kertas termasuk kebutuhan pakan ternak. Meski hamparan tanaman jagung dapat kita jumpai di beberapa daerah di Indonesia, namun ketersediaan jagung tidaklah berlangsung sepanjang tahun.


Pemanfaatan Tanaman Jagung


Pemanfaatan hasil ikutan tanaman jagung berupa batang dan daun yang masih muda, dikenal sebagai jerami jagung dimanfaatkan sebagai hijauan pakan ternak sudah banyak dilakukan petani, namun belum seluruhnya optimal pemanfaatannya. Selain diberikan pada ternak sebagai hijauan segar, jerami jagung juga dapat diberikan sebagai hijauan pakan ternak yang mengalami proses pengolahan teknologi pakan dalam bentuk hay dan silase.
Seiring berkembangnya daerah-daerah sentra tanaman jagung yang berguna untuk memenuhi kebutuhan industri pakan ternak, tidak menutup kemungkinan juga dapat dikembangkan menjadi kawasan daerah potensi petani penghasilan olahan hijauan hasil ikutan tanaman jagung berupa silase dan hay akan memberikan nilai tambah pada pendapatan keluarga petani.


Teknologi Pengolahan Jerami Jagung


Pada saat musim panen jagung tersedia jerami jagung yang melimpah, begitu selesai masa panen jagung tidak jarang jerami jagung menjadi langka. karena itu teknologi pengolahan pengawetan jerami jagung perlu dibudayakan oleh petani ternak guna tersedianya hijauan pakan ternak sepanjang tahun dan sekaligus akn meningkatkan kualitas mutu pakan. Pembuatan hay, jerami jagung segar dilayukan dan dikeringkan untuk diawetkan dan disimpan dalam beberapa waktu. proses pengeringan dan pelayuan pembuatan hay akan menurunkan kandungan kadar air sampai tersisa dua puluh persen tanpa adanya kerusakan nilai gizi pakan kecuali vitamin a dan d yang cenderung turun. Jerami jagung yang baik untuk pembuatan hay adalah batang dan daun jerami jagung yang masih berwarna hijau.
Pembuatan hay dilakukan dengan dua cara yaitu model hamparan dan model pod. pembuatan hay model hamparan, dengan cara menghamparkan jerami jagung yang sudah dipotong-potong dilapangan terbuka dibawah sinar matahari. setiap hari dilakukan pembalikan berulang-ulang sampai kering baru bisa disimpan dan dapat digunakan pada saat musim paceklik pakan ternak. pembuatan hay dengan model pod diperlukan sedikit tambahan biaya, diperlukan rak sebagai tempat menyimpan jerntami jagung yang telah dijemur selama 1-3 hari. rak tempat menyimpan jerami jagung dapat berbentuk tripod yaitu rak jerami berkaki tiga atau tetrapod (rak dengan kaki 4)pilihan rak mana yang akan dipilih tidak mengikat, pastinya rak dapat digunakan untuk menyimpan jermai jagung selama 3-6 minggu sebelum digunakan sebagai pakan ternak.
Keuntungan pembuatan hay adalah:
  1. Teknologinya sangat sederhana dan mudah untuk diterapkan oleh petani ternak;
  1. Pada saat panen jagung tersedia jerami jagung yang melimpah dan dapat disimpan, digunakan saat paceklik hijauan pakan ternak.
Sedangkan kelemahan dari pembuatan hai adalah:
  1. Sangat tergantung dengan keberadaan sinar matahari;
  1. Tidak semua jenis hijauan pakan ternak dapat dibuat hai;
  1. Perlu tenaga kerja untuk pembalikan jerami jagung dan simpan jemur pada saat proses pembuatannya.
Pembuatan silase, dilakukan dengan cara jerami jagung dipotong-potong dan dimasukkan kedalam tempat/ruangan yang kedap udara dan dipadatkan untuk disimpan dalam wadah tertentu.menghasilkan silase yang berkualitas baik perlu diperhatikan benar temperatur pembuatan silase berkisar 27-35 derajat celsius dengan hasilnya:
  1. Mempunyai tekstur segar;
  1. Berwarna kehijau-hijauan;
  1. Tidak berbau busuk;
  1. Tidak berjamur;
  1. Tidak menggumpal dan disukai ternak.
Prinsip utama pembuatan silase adalah:
  1. Menghentikan pernafasan dan sel-sel tanaman;
  1. Mengubah karbohidrat menjadi asam laktat melalui proses fermentasi kedap udara;
  1. Menahan aktifitas enzyme dan bakteri pembusuk.
Persyaratan lain yang harus dipenuhi oleh peternak yang akan membuat silase adalah harus mempunyai luasan areal yang cukup untuk silo yaitu tempat menyimpan hijauan proses pembuatan silase.idealnya pembuatan silase disesuaikan dengan kebutuhan dengan patokan penggalian lubang setiap 150 meter kubik dapat menampung 150 kg bahan kering hijauan.
Bahan baku silase jerami dapat menggunakan tanaman jagung yang belum panen dan tanaman jagung setelah panen. pembuatan silase pada tanaman jagung yang belum panen, kaya dengan kandungan gizi pakan utamanya zat gula yang akan membantu dalam proses fermentasi dengan kandungan protein mencapai 11-15 per sen dan disukai ternak. bila pilihan bahan baku silase pada tanaman jagung yang masih muda, batang dan daun yang masih hijau untuk pembuatan silase. sedangkan pada pembuatan silase yang menggunakan bahan baku tanaman jagung setelah panen, pilihan jerami jagung yang berwarna hijau mempunyai kandungan serat kasar lebih tinggi dibandingkan dengan jerami warna kuning.
Kwalitas produksi silase jerami jagung mempunyai kandungan gizi pakan mineral kalsium yang rendah dan protein hanya mencapai 8,3 per sen karena itu perlu ditambahkan urea dengan kadar 0,45 persen (4,5kg /ton silase) sebagaimana dianjurkan direktorat pengembangan peternakan, yang akan memberikan peningkatan pada kandungan protein silase jerami jagung dan cukup untuk memenuhi kebutuhan protein sapi potong dan sapi perah. selain penambahan urea sebaiknya pada saat pemberian pakan juga ditambahkan garam sebanyak 50 gr/ekor/hari. proses pembuatan silase jerami jagung dilakukan dengan melayukan jerami jagung selama 2 hari dan dilakukan pemotongan dengan ukuran 3-5cm, selanjutnyaa dilakukan pencampuran jerami jagung dengan bahan-bahan yang diperlukan pembuatan silase. penambahan bahan-bahan pembuatan silase akan mempercepat proses fermentasi, mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri pembusuk yang akan meningkatkan tekanan osmosis sel-sel jerami jagung.
Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan silase ukuran 1 ton hijauan terdiri dari asam organik(asam format, asam sulfat, asm aklorida/asam propionat)4-6 kg, molasses atau tetes 40 kg, garam 30 kg,dedak padi 40 kg,menir 36 kg dan onggok 30 kg. penambahan-bahan dilakukan secara merata keseluruh potongan jerami jagung yang dibuat silase. pencamuran molasses atau tetes sebaiknya dilakukan secara bertahap dengan cara pencampuran secara berlapis bergantian dengan campuran bahan dan jerami jagung yang dipadatkan, pada saat penempatan jerami jagung pada lubang galian tanah yang dikenal sebagai silo dan selanjutnya  dilakukan penutupan silo.
Pemdatan jerami jagung dilakukan setelah proses pencasmpuran semua bahan yang diperlukan kecuali molasses/tetes, masukkan potongan jerami jagung dengan cara diinjak-injak sepadat mungkin dalam silo yang sudah diberikan atas lapisan plastik yang menjadi tempat penampungan selama proses pembutan silase. pemberian molasses/tetes dapat dilakukan dengan cara tumpukan padatan jerami jagung dasar ditambahkan molasses/tetes 2 bagian, selanjutnya pada padatan tumpukan lapisan tengah jerami jagung dapat diberikan molasses/tetes 3 bagian kemudian lapisan tengah padatan tumpukan jerami jagung diberikan molasses/tetes 5 bagian. pencampurn molasses/tetes secara bertahap ini akan bercampur merata selanjutnya padatkan kembali dan tutup dengan plastik dan tanah. penggunaan silase sebagai pakan ternak dapat dilakukan setelah 8 minggu proses pembuatan silase, dengan cara pengambilanya bertahap sesuai dengan kebutuhan konsumsi ternak dan segera lakukan penutupan kembali.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar